Awas Jajanan Pinggir Jalan! SMP Negeri 115 Sosialisasi Bahaya Kesehatan Bagi Siswa

Admin/ Maret 11, 2026/ Pendidikan

Dunia kuliner jajanan sekolah memang selalu menggoda, mulai dari aneka gorengan hingga minuman berwarna mencolok. Namun, di balik rasa yang lezat, tersembunyi risiko kesehatan yang sering kali diabaikan oleh para remaja. Memahami kerentanan siswa terhadap produk makanan yang tidak terjamin kebersihannya, SMP Negeri 115 secara rutin mengadakan kegiatan sosialisasi mengenai bahaya jajanan pinggir jalan. Program ini dirancang untuk membekali siswa dengan pengetahuan kritis agar mereka lebih selektif dalam memilih konsumsi makanan di luar sekolah.

Pihak sekolah sering menemukan bahwa banyak pedagang di sekitar lingkungan sekolah yang belum sepenuhnya memahami standar keamanan pangan. Bahan pengawet, pewarna tekstil, hingga kebersihan alat masak yang minim menjadi ancaman serius bagi sistem pencernaan siswa. Masalah seperti diare, keracunan makanan, hingga gangguan jangka panjang pada organ tubuh menjadi alasan kuat mengapa SMP Negeri 115 merasa perlu turun tangan langsung. Edukasi ini bukan berarti melarang siswa jajan, melainkan mengajarkan mereka cara memilah jajanan yang memenuhi standar higienis.

Dalam sosialisasi tersebut, siswa diajarkan untuk mengenali ciri-ciri Jajanan Pinggir Jalan yang tidak sehat. Misalnya, warna makanan yang terlalu cerah atau neon sering kali menjadi indikasi adanya penggunaan pewarna non-makanan. Selain itu, bau tengik pada minyak goreng bekas (minyak jelantah) menjadi tanda bahwa makanan tersebut sudah tidak layak konsumsi karena mengandung lemak trans yang tinggi. Dengan memberikan contoh visual dan penjelasan medis yang mudah dimengerti, siswa diharapkan dapat menjadi “pengawas” bagi dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu.

SMP Negeri 115 juga mendorong kantin sekolah untuk menyediakan alternatif makanan yang lebih sehat dan terjamin mutunya. Pihak manajemen sekolah bekerja sama dengan paguyuban orang tua untuk memantau kualitas makanan yang masuk ke lingkungan pendidikan. Langkah ini didukung oleh program kesehatan yang melibatkan dokter kecil dan kader UKS (Unit Kesehatan Sekolah) untuk rutin memantau status gizi siswa. Dengan menyediakan pilihan makanan sehat di dalam sekolah, ketergantungan siswa pada pedagang kaki lima di luar sekolah dapat dikurangi secara signifikan.

Share this Post