Literasi Media: Cara Siswa SMP 115 Verifikasi Fakta di Era Post-Truth
Dunia informasi saat ini sedang mengalami pergeseran paradigma yang cukup ekstrem, di mana emosi dan keyakinan pribadi sering kali lebih dianggap benar daripada fakta objektif. Fenomena yang dikenal sebagai era post-truth ini menjadi tantangan besar, terutama bagi para remaja yang merupakan pengguna aktif platform digital. Dalam konteks ini, Literasi Media bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan sebuah kompetensi pertahanan diri yang wajib dimiliki. Di sekolah-sekolah unggulan, pemahaman mengenai bagaimana informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi menjadi materi krusial untuk mencegah penyebaran berita bohong atau hoaks yang dapat merusak tatanan sosial.
Salah satu fokus utama pendidikan di SMP 115 adalah membekali para siswa dengan kemampuan analisis kritis terhadap setiap informasi yang mereka terima di layar ponsel. Siswa diajarkan untuk tidak langsung membagikan sebuah konten hanya karena judulnya yang bombastis atau sesuai dengan perasaan mereka saat itu. Mereka dilatih untuk melakukan skeptisisme yang sehat; mempertanyakan sumber berita, mencari pembanding dari media yang kredibel, serta memeriksa kredibilitas penulisnya. Dengan cara ini, siswa belajar bahwa di balik sebuah informasi, selalu ada kepentingan atau sudut pandang tertentu yang perlu dipahami secara mendalam.
Keterampilan untuk Verifikasi Fakta menjadi menu harian dalam proses belajar mengajar. Siswa diberikan simulasi cara menggunakan alat-alat pengecek fakta digital, memahami cara kerja algoritma media sosial yang cenderung menciptakan “ruang gema” (echo chamber), hingga mengenali ciri-ciri visual yang dimanipulasi oleh kecerdasan buatan. Pendidikan ini bertujuan agar siswa mampu membedakan mana berita yang bersifat informatif dan mana yang bersifat provokatif. Kemampuan untuk menunda penilaian sebelum mendapatkan bukti yang kuat adalah tanda kematangan intelektual yang terus dipupuk di lingkungan sekolah.
Di era Post-Truth, batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi sangat tipis. Oleh karena itu, SMP 115 menekankan pentingnya integritas dalam berkomunikasi. Siswa didorong untuk menjadi produsen konten yang bertanggung jawab, bukan hanya sekadar konsumen pasif. Mereka diajarkan bahwa setiap unggahan atau komentar yang mereka buat memiliki dampak luas. Dengan memiliki literasi yang baik, siswa diharapkan mampu menjadi agen pelurus informasi di lingkungan keluarga maupun pertemanan mereka. Mereka belajar bahwa kebenaran harus tetap dijunjung tinggi meskipun narasi yang salah terasa lebih populer atau menyenangkan untuk diikuti.
